WHAT'S NEW?
Loading...
Tokoh pengembang di Jawa Barat meragukan harga rumah murah bisa Rp 25 juta per unit, seperti yang digaungkan oleh pemerintah. Pasalnya dengan tingkat harga bahan bangunan harga besi baja harga besi beton harga besi beton ulir harga besi beton bjku harga besi beton cakra steel cs harga besi beton delcoprima harga besi beton gunung garuda harga besi beton interworld steel is harga besi beton jcac harga besi beton krakatau steel saat ini, harga Rp 25 juta dinilai terlalu rendah dan kurang logis untuk sebuah rumah layak huni.
“Apalagi UU no. 1 /2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman (UU PKP) mensyaratkan ukuran rumahnya minimal tipe 36 (36 m2). Artinya biaya pembangunan rumah harga besi beton ksty harga besi beton master steel ms harga besi beton PAS harga besi beton perwira harga besi beton psi harga besi beton sii harga besi beton sni tersebut per meternya kurang dari Rp 700 ribu (rp 36 juta dibagi 36),” ujar Ketua Umum Persatuan Perusahaan Real Estat Indonesia (REI) Jabar, Yana Mulyana, Kamis (19/4).
Menurut Yana pada saat ini untuk pembangunan rumah segmen RSH (rumah sehat sederhana), yang merupakan jenis rumah yang disubsidi masyarakat, biaya paling murahnya sudah mencapai Rp 1,2 juta. Artinya , jika membuat rumah tipe 36, biaya pembangunannya saja sudah mencapai Rp 43 jutaan.
“Karenanya saya tak habis pikir, bagaiamana mungkin biaya pembangunan rumah yang digaungkan oleh Pemerintah, benar benar biayanya hanya Rp 25 juta,” katanya.
Berkaitan dengan upaya pemerintah mendorong harga rumah untuk masyarakat bepenghasilan rendah (MBR) menjadi Rp 25 juta, dengan skema pembebasan biaya pemasangan listrik dan biaya pengurusan sertifikasi.
Menurut Yana hal tersebut juga tidak mungkin bisa membuat biaya pembangunan rumah tipe 36 menjadi Rp 25 juta.
Pasalnya, dengan pengurangan kedua biaya tersebut, hanya akan mengurangi biaya keseluruahnRp 3 juta. Biaya pasang listrik kurang lebih Rp 1,5 juta per unit dan biaya pengurusan sertifikat saat ini kurang lebih Rp 1,5 juta.
“Artinya dengan perhutungan biaya pembuatan paling rendah (Rp 1,2 juta per m2), biaya total pembuatannya masih Rp 40 juta-an,” katanya.
Menanggapi rencana pemerintah membuat rumah Rp 25 juta dengan didukung penyediaan lahan dari pemda, Yana mengatakn hal tersebut juga hampir tidak mungkin dilakukan. Jika diasumsikan biaya pembangunan bisa Rp 25 juta dan pemda bersedia menghibahkan lahannya, pengurusan legal aspek dari ststus tanahnya juga bukan hal yang gampang diurus.
Sebagai ilustrasi, untuk bisa menghibahkan tanah tersebut, Pemda perlu persetujuan dari DPRD. Jika diasumsikan DPRD menyetujuinya akan ada permasalahan baru, kepada siapa tanah tersebut dihibahkan? Kepada pengembang terus nantinya dipecah atau kepada konsumen (MBR) langsung.
“Yang manapun opsi yang dipilih, sudah pasti akan menimbulkan banyak masalah. Selain dikarenakan dasar keputusan hibahnya kurang kuat, juga akan banyak kepentingan yang masuk di dalamnya. Kesimpulannya, Pemda mana yang mau mencari-cari masalah seperti itu,” katanya.
Sementara Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan Rakyat Indonesia (AP2ERSI), Ferry Sandiyana mengatakan pada dasarnya dengan harga berapapun, sebuah rumah bisa saja dibangun. Masalahnya untuk membuat rumah dengan standar layak huni yang ditetapkan oleh Pemerintah, tidak mungkin hanya dengan harga Rp 25 juta.
“Kalaupun dipaksakan membangun rumah Rp 25 juta dengan asumsi harga tanahnya nol, siapa yang mau membeli rumah tersebut. Katanya prototype rumah Rp 25 juta ini sudah ada di Kemenpera, saya penasaran siapa pembuatnya. Kalau benar-benar rumah itu spesifikasi layak huni dan harganya Rp 25 juta, saya kira akan banyak pengembang yang mengantri ingin berguru,” katanya.
Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang masih belum jelas diprediksi akan menyebabkan kenaikan harga perumahan. Hal ini dipicu naiknya harga bahan material bangunan harga besi baja harga besi h beam harga besi .
Wakil Ketua Real Estate Indonesia (REI) Jawa Timur Tri Wedianto mengatakan, harga perumahan bisa naik hingga 20 persen. Kenaikan harga yang kemungkinan sangat mencolok terjadi di wilayah Surabaya dan Malang. Dicontohkan, harga rumah mewah yang sebelumnya Rp600 juta/unit, kini naik hingga Rp775 juta/unit.
Bukan hanya pengaruh kenaikan harga material bangunan saja.Kenaikan biaya ini juga ditentukan tingginya ongkos tenaga kerja bangunan. ”Saat ini ongkos kerja para pekerja bangunan naik. Sebelumnya, biaya tukang hanya Rp225 ribu/meter persegi (m2), kini menjadi Rp300 ribu/m2,” tuturnya, kemarin. Seluruh kenaikan biaya produksi rumah tersebut, menurut dia dibebankan kepada konsumen.
Dia khawatir harga perumahan akan semakin melambung apabila harga material bangunan harga besi plat kapal harga besi beton tidak segera dapat dikendalikan. Karena itu pemerintah diharapkan segera melakukan intervensi terhadap pengendalian harga material bangunan harga besi pipa harga besi cnp harga besi unp harga besi pipa harga besi siku harga besi wf. Dampak kenaikan harga material harga besi wiremesh harga besi cnp harga besi h beam juga akan berdampak kepada harga perumahan kelas menengah serta rumah sehat sederhana (RSH). Harga rumah kelas menengah saat ini sudah berkisar Rp200 juta/unit.
Sementara untuk RSH harganya masih disubsidi pemerintah. Meski sudah ada subsidi pemerintah untuk RSH, dia tetap berharap pemerintah segera merevisi ketetapan harga RSH. Sebab dengan kondisi harga bahan yang serba naik seperti ini, pembangunan RSH akan sulit direalisasikan para pengembang.
"Idealnya harga RSH bisa naik dari sebelumnya Rp70 juta/unit menjadi Rp80 juta/- unit,” tegasnya. Dampak paling nyata dari kenaikan harga perumahan ini tentunya akan dirasakan para buruh dan pegawai negeri sipil (PNS) rendahan. Salah seorang pemilik took bangunan di Kota Malang Suyanto mengaku, kenaikan harga material bangunan paling mencolok salah satunya batubata harga besi siku harga besi unp harga besi wf harga besi pipa harga besi beton harga besi beton ulir harga besi pipa harga besi plat .
Sebelumnya, harga batu bata Rp425 ribu/1.000 biji, kini naik menjadi Rp450 ribu/1.000 biji. Sementara harga pasir biasanya Rp350 ribu/truk,saat ini menjadi Rp450 ribu/truk.”Awalnya kenaikan harga ini akibat rencana kenaikan harga BBM. Tetapi setelah kenaikan harga BBM dibatalkan, harga material harga besi wiremesh harga bondek harga spandek tetap saja tidak bisa turun,”katanya.
Akibat dari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dari harga Rp 4.500 menjadi Rp 6.500, berpengaruh terhadap rencana berbagai program pembangunan di Kabupaten Bandung.
Hal tersebut diakui oleh Anggota Badan Anggaran DPRD Kabupaten Bandung Saeful Bahri. Menurutnya, seiring dengan kenaikan harga BBM tersebut, berpengaruh terhadap rencana pelaksanaan pembangunan. Seiring dengan adanya penurunan nilai tukar terhadap plafon rencana program kegiatan.
"Jelas sekali ada pengaruhnya, karena plafon program pembangunan sebelum kenaikan BBM dan setelahnya berbeda. Harus ada perhitungan ulang, karena kan biaya belanjanya juga ada kenaikan," ujar Saeful Bahri saat diwawancarai di Soreang Kabupaten Bandung pada, Senin (1/7/2013).
Saeful mengatakan kenaikan rencana belanja program pembangunan itu, lebih terasa pada bidang insfrastruktur. Seperti pengerjaan jalan, gedung dan lain sebagainya. Kenaikan terjadi seiring naiknya berbagai harga material harga besi baja harga besi h beam harga besi plat.
"Yah seperti semen, harga besi wf harga besi beton harga besi cnp harga besi unp harga besi siku besi dan lain-lainnya juga kan naik. Pasti plafon saat penetapan APBD dulu sebelum kenaikan sama setelah beda. Dan sebenarnya kenaikan juga bukan hanya pada bidang insfrastruktur saja, tapi semuanya juga ada Jadi harus ada penyesuaian," ujarnya.
Meski demikian, lanjut Saeful, hingga saat ini belum terlihat nilai kenaikan biaya program pembangunan tersebut. Karena hal ini baru bisa diketahui pada saat Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) ditetapkan.
"Kalau sekarang belum kelihatan, tapi pastinya nanti di APBD-P akan terlihat. Dan perubahan di APBD itu berdasarkan masukan dan kajian terhadap para pelaksana program kegiatan. Tapi sampai sekarang belum ada laporan, karena memang untuk pembahasan APBD-P itu setiap tahunnya di mulai pada Juli seperti sekarang ini," katanya.
Di masa datang kata Saeful, dalam pembahasan APBD-P, akan terlihat pengaruh apa saja yang mengharuskan adanya perubahan. Seperti Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE), melemahnya nilai tukar rupiah dan juga termasuk dampak kenaikan harga BBM.
"Dalam APBD-P semuanya dibahas, termasuk plafon program pembangunan yang terkena dampak kenaikan harga BBM itu," ujarnya.
Meski belum diketahui nilai kenaikan rencana penambahan anggaran dalam APBD- P tersebut. Namun kata dia, jika bercermin dari APBD 2012 dengan besaran anggaran Rp. 3,06 triliun dan pada 2013 Rp. 2,7 triliun. Sehingga, pada APBD-P nanti tidak menutup kemungkinan nilainya lebih dari Rp. 3 triliun.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga Kabupaten Bandung Agus Nuria, belum dapat memastikan nilai penambahan anggaran di dinas yang dipimpinnya. Sehingga, dari anggaran kurang lebih sebesar Rp. 180 miliyar, untuk pembangunan jalan, drainase dan Penerangan Jalan Umum (PJU) itu belum diketahui berapa penambahan nilainya.
"Kalau sekarang belum kelihatan, karena belum ada pembahasan di APBD-P. Kalau kemungkinan naik pasti naik akibat BBM naik. Jadi harus ada penyesuaian harga juga," katanya.
Gabungan Perusahaan Konstruksi Nasional Indonesia (Gapeksindo) Jabar, meminta pemerintah daerah di tingkat provinsi dan Kota/Kab mengeluarkan eskalasi harga (penyesuaian). Hal itu menyusul terjadinya berbagai kenaikan harga bahan material kontruksi harga besi baja harga besi beton harga besi cnp harga besi h beam harga besi hollow harga besi pipa harga besi plat harga plat bordes harga besi plat kapal harga besi siku , akibat rencana kenaikan BBM.
“Saat ini hampir semua harga material naik, termasuk berbagai bahan utama seperti harga besi unp harga besi wf harga besi wiremesh aspal, besi, dan semen. Secara umum kenaikannya mencapai 30%, Sekalipun BBM nya tidak jadi naik, harga-harga yang sudah naik tidak turun lagi,” ujar Ketua Umum Gapeksindo Jabar, Ali Abudan, Rabu (4/4).
Menurut Ali, yang baru terpilih menjadi Ketua Umum untuk 2012-2017 dalam Musda III Gapeksindo Jabar akhir pekan lalu, kondisi tersebut menjadi masalah besar bagi kontraktor yang mengerjakan proyek pembangunan tahun 2012.
Pasalnya semua proyek pemerintah yang ada saat ini, penetapan nilainya menggunakan harga perkiraan satuan (HPS) yang didasarkan asumsi tidak ada kenaikan BBM.
Hal tersebut membuat kontraktor mengalami kekurangan dana, untuk memenuhi spesifikasi pekerjaan yang sudah disepakati. Karena terjadi ketidaksesuaian harga yang mencolok, pada saat mengikuti lelang dan sewaktu pelaksanaan pembangunan.
Oleh karena itu, diperlukan eskalasi, untuk menambah kekurangan dana proyek, akibat perbedaan harga mencolok yang dipicu oleh isu kenaikan BBM.
“Mumpung saat ini memang baru beberapa proyek APBD provinsi dan APBD Kota/Kab. yang dilaksanakan, sehingga masih tersedia waktu untuk menyiapkan ekskalasi harga. Apalagi Pemerintah pusat juga sudah memberi sinyal, BBM akan tetap naik dalam enam bulan ini. Harga-harga yang sudah naik saat ini tidak akan turun, malah berpeluang naik lai,” katanya.
Ditambahkan, eskalasi harga pada saat ini menjadi kebutuhan sangat mendesak, karena kenaikan harga yang terjadi sangat tinggi. Berbeda dengan saat harga BBM naik tahun 2005, kenaikan harga material rata-rata hanya berkisar 12%-13%.
Untuk itu, ketika ekskalasi diberikan (saat itu besarannya 10%) relatif terlambat, masih bisa ditangani oleh kontraktor.
Berkaitan dengan kemungkinan yang terjadi jika ekskalasi harga tidak dilakukan, Ali engkhawatirkan akan terjadinya gejolak di sektor konstruksi Jabar. Akan banyak kontraktor yang tidak bisa menyelesaikan pekerjaan, karena kekurangan dana.
Di sisi lain, Pemerintah juga dirugikan dengan banyaknya proyek tidak selesai, spesifikasi hasil pekerjaan di bawah standar, dan penyerapan anggaran yang terhambat.
“Tentunya agar kebijakan ekskalasi harga bisa efektif, diperllukan besaran yang proprsional dengan kenaikan yang terjadi. Jangan karena sebelumnya 10%, kali inipun disamakan 10% juga,” katanya.
Sementara Ketua LPJKD (Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi daerah) Jabar. Indrato, mengatakan eskalasi harga saat ini memang diperlukan, mengingat fakta di lapangan berbagai harga material terus mengalami kenaikan. Namun menurutnya perlu beberapa waktu, untuk bisa menetapkan ekskalasi tersebut.
“Untuk menetapkan ekskalasi perlu dihitung terlebih dahulu berapa-berapa kenaikannya. Oleh karena itu perlu beberapa waktu sampai terjadi keseimbangan harga yang baru, baru ditetapkan berapa persen eskalasinya. Tapi memang harus udah dipersiapkan sejak sekarang, apalagi kenaikan BBM tampaknya tetap akan terjadi dalam enam bulan ini,” katanya.
Menteri Negara Perumahan Rakyat (Menpera) Yusuf Asy`ari memastikan, pemerintah tetap tidak akan menaikkan harga jual Rumah Sehat Sederhana (RSH), setidaknya hingga akhir tahun 2008. Meski berbagai harga bahan bangunan harga besi baja harga besi cnp harga besi h beam harga besi plat kapal harga besi siku harga besi unp disinyalir sudah naik 20%-30%, untuk rumah susun sederhana yang bersubsidi kenaikan harga masih dipertimbangkan.
"Untuk harga RSH yang ditetapkan April lalu dari Rp 42 juta menjadi Rp 55 juta, itu sudah dihitung dengan kemungkinan kenaikan harga BBM-nya. Oleh karena itu, pemerintah tak akan menaikkan lagi harga RSH," katanya di sela-sela Musda VIII REI Jabar, di Hotel Savoy Homann Bandung, Kamis (21/8).
Menyinggung kemungkinan terhambatnya penyediaan rumah dengan kenaikan harga bahan bangunan harga besi wf harga besi beton harga besi hollow harga besi pipa harga besi wiremesh , Yusuf mengatakan, program pengadaan rumah tidak hanya disediakan oleh RSH. Pemerintah memiliki program bantuan perumahan swadaya, untuk mendorong masyarakat membangun rumah sendiri.
Menurut dia, Kementerian Perumahan Rakyat sudah meluncurkan bantuan perumahan swadaya Rp 58,8 miliar kepada 62 kabupaten/kota dari 20 provinsi. Tahun lalu, bantuan hanya diberikan kepada 45 kabupaten/kota di 13 provinsi dengan total bantuan Rp 24,3 miliar.
Dana itu terdiri atas bantuan stimulan perumahan swadaya (BSP2S) Rp 27 miliar (setara dengan 4.800 unit rumah) dan bantuan peningkatan kualitas perumahan (PKP) Rp 31,58 miliar (setara dengan 5.000 unit rumah). "Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RJPM) selama lima tahun, perumahan swadaya ditargetkan 3,6 juta unit. Mulai dari tahun 2004 hingga Agustus 2008, sudah terbangun 2,2 juta unit," katanya.
Sementara itu, Ketua REI F. Teguh Satria mengatakan perlu adanya dukungan sesungguhnya dari pemerintah dalam penyediaan perumahan masyarakat. Terutama dalam hal perizinan, yang hingga masih menjadi hambatan utama bagi para pengembang.
"Pelayanan satu atap misalnya, menjanjikan penyelesaian izin 12 hari jika persyaratannya lengkap. Untuk melengkapi persyaratannya ini yang memerlukan waktu berbulan-bulan. Jadi sama aja, satu atap atau tidak tetap saja berbulan-bulan," katanya.
Direktur Utama BTN Iqbal Latanro mengatakan, untuk mendorong masyarakat agar membeli rumah, BTN akan terus membuka unit kerja untk melayani mereka yang akan mengambil kredit pemilikan rumah (KPR).
Mengenai target penyaluran kredit, Iqbal mengatakan, besarannya yaitu Rp 10,43 triliiun. Hingga Kamis (14/8), total kredit yang sudah tersalurkan Rp 8,6 triliun. "Berarti pencapaian kredit sudah tercapai 83%. Diperkirakan di akhir tahun, pencapaian kredit akan mencapai 134%-nya dari target," kata Iqbal.
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) membuat pengusaha bahan bangunan di Kabupaten Bandung kesulitan dalam mematok harga pokok produksi (HPP). Belum stabilnya harga semen di pasaran adalah faktor utamanya.
"Rata-rata kenaikan harga bahan bangunan harga besi baja harga besi beton harga besi cnp harga besi h beam harga besi hollow mencapai 15-20 persen. Waktu pertama kali BBM naik, hampir semua harga bahan bangunan harga besi pipa harga besi plat harga plat bordes harga besi plat kapal harga besi siku naik. Tapi, sekarang sudah mulai stabil, kecuali harga semen," kata Suryana (58), pengusaha paving block di Desa Sangkan Hurip Kec. Katapang Kab. Bandung, Selasa (17/6).
Belum stabilnya harga semen harga besi unp harga besi wf harga besi wiremesh itu membuat pengusaha kesulitan dalam mematok harga produk yang akan dijual. Hingga saat ini, Suryana mengaku belum menentukan harga baru karena pertimbangan itu.
Sebagai gambaran, harga semen Tiga Roda mencapai Rp 47.000,00/sak; semen Holcim Rp 45.500,00; semen Gresik Rp 45.500,00; dan semen Padang Rp 45.000,00. Padahal, sebelum kenaikan BBM harga-harga semen itu dalam kisaran Rp 40.000,00.
"Hampir setiap hari harganya naik terus. Katanya sih ada pembatasan dari produsen semennya. Semoga saja aparat terkait dapat memerhatikan masalah ini," kata Suryana
Penentuan nilai bangunan dilakukan dengan menggunakan Pendekatan Biaya (Cost Approach). Metode ini dilakukan dengan memperkirakan atau menginterpretasikan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan atau membangun harta ada masa sekarang dalam keadaan baru, dan dikurangi dengan keausan penyusutan atau depresiasi. Hal itu diungkapkan Kepala Kantor Wilayah Jawa Barat I Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementrian Keuangan RI, Dedi Rudaedi, saat dighubungi "PRLM".
Akibatnya, kata Dedi, nilai bangunan sangat dipengaruhi oleh peningkatan harga material bangunan harga besi baja harga besi h beam harga besi baja harga besi wf harga besi beton dan upah pekerja bangunan. Dalam komponen pajak, hal ini dimasukkan sebagai sumber dari Daftar Biaya Komponen Bangunan (DBKB). Karena peningkatan harga resource DBKB harga besi cnp harga besi unp harga besi pipa harga besi siku yang ada saat ini lebih tinggi dari nilai penyusutan, maka nilai objek bangunan tersebut mengalami kenaikan. PBB yang dibayar warga sebelum September setiap tahunnya, menggunakan metode biaya untuk menentukan properti yang akan dikenakan pajak. Berdasarkan data di Kanwil DJP Jawa Barat I, perbandingan antara harga riil dengan harga yang ditetapkan untuk resource DBKB berkisar 87 persen
Harga bahan bangunan di Kecamatan Pangalengan dan Kertasari, Kab. Bandung melambung akibat tingginya permintaan dari masyarakat yang hendak membangun kembali rumahnya. Harga semen yang biasanya Rp 52.000,00 per zak kini meroket sampai Rp 60.000,00 per zak, demikian pula harga bilik bambu, bambu, maupun pasir.
Kondisi seperti itu sempat dikeluhkan Camat Pangalengan, Haris Taufik, dan Kades Kertamanah, Dadang Kurniawan. ”Permintaan masyarakat memang tinggi, karena mereka sudah mulai membangun kembali rumahnya yang dirusak gempa secara swadaya. Dampaknya, harga bahan-bahan bangunan harga besi baja harga besi beton harga besi wiremesh harga besi plat harga besi cnp harga besi h beam harga besi hollow pun melonjak drastis,” kata Haris.
Ia mencontohkan, harga semen harga besi pipa harga plat bordes harga besi plat kapal harga besi siku harga besi unp yang biasanya Rp 52.000,00 per zak melonjak hingga Rp 60.000,00 per zak, bahkan ada yang menjualnya Rp 70.000,00 per zak. ”Kalau tidak ada upaya stabilisasi pasar, harga-harga bahan bangunan bisa tidak terkendali,” katanya.
Dadang Kurniawan mengatakan, harga bahan bangunan lain yang naik tajam adalah harga besi wf bilik bambu, yaitu dari Rp 15.000,00 per lembar menjadi Rp 45.000,00 per lembar. ”Karena harga bilik bambu yang dijual pedagang bahan bangunan naik tak terkendali, akhirnya pemerintah desa dan masyarakat membeli langsung dari perajinnya di Ciwidey dengan harga Rp
15.000,00 per lembar,” katanya.
Demikian pula dengan pasir yang biasanya bisa diperoleh dengan harga Rp 600.000,00 per truk saat ini sudah mencapai Rp 800.000,00 per truk. ”Belum lagi dengan harga bata merah dan besi yang ikut-ikutan naik. Warga Pangalengan yang sudah terkena gempa kini harus menghadapi mahalnya harga bahan bangunan,” ujarnya.
Bahkan, korban gempa di Desa Cibeureum, Kec. Kertasari, kesulitan mendapatkan semen di Pangalengan akibat minimnya stok yang ada. ”Kondisi ini harus segera diatasi, apalagi mulai 15 Oktober nanti akan dilakukan rehabilitasi secara serentak. Ketika warga secara swadaya berusaha merehab rumahnya, harga bahan bangunan ternyata sudah naik semua,” katanya.
Harga semen alami kenaikan hingga tiga kali lipat sejak bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi diisukan akan naik pada 1 April yang lalu. Kenaikan harga tersebut dipengaruhi oleh naiknya harga bahan baku semen dan susahnya mendapatkan suplai barang dari distributor.
“Sejak seminggu sebelum rencana kenaikan BBM, harga semen sudah alami kenaikan hingga tiga kali. Bahkan suplainya pun sempat tersendat. Saat ini, harga tidak mungkin kembali turun,” ujar penjual bahan bangunan, Haerudin (28), saat ditemui di tokonya Jl. Raya Cikutra Barat No.48, Bandung, Rabu (11/4).
Kenaikan harga hingga tiga kali terjadi pada semen 50 kilogram, sedangkan untuk yang 40 kilogram kenaikannya hanya sekali. Ia mengungkapkan, saat ini semen 50 kilogram dijual seharga Rp 60.000 per zak.
“Semen tersebut, sebelum ada isu kenaikan harga BBM saya jual seharga Rp 58.000 kemudian naik menjadi Rp 59.000 dan mungkin akan naik lagi minggu depan, sekira Rp 62.000 per zak,” katanya.
Sementara itu, dari sisi penjualan, permintaan semen relatif masih normal. Akan tetapi, ada pergeseran konsumen.
“Biasanya permintaan semen kebanyakan datang dari pengusaha yang sedang memiliki proyek tertentu, seperti pembuatan gedung perkantoran atau sedang menggarap pebaikan jalan. Sekarang, pembeli sebagian besar dari perorangan saja,” tambahnya.
Harga semen harga besi baja harga besi wf harga besi h beam harga besi plat kapal harga besi plat harga besi wiremesh harga besi beton yang sudah naik hingga tiga kali tersebut juga diakui oleh penjual lainnya, Hani (40). Menurutnya, walaupun saat ini persediaan barangnya sudah kembali normal, namun harganya tetap belum turun.
“Saya semen merek Tiga Roda yang 50 kilogram saya jual seharga Rp 59.500, sementara untuk Holcim dan Gresik Rp 59.000,” ujarnya.
Namun demikian, ia akui permintaan semen dari konsumen masih tetap tinggi, walaupun harganya terus merangkak naik sejak sebulan terakhir. “Ya gimana lagi, semen kan termasuk bahan dasar bangunan, jadi konsumen hanya bisa menerima saja jika harganya naik,”ucapnya.
Menurut penjual lainnya, Deden Solihin (38), BBM yang tidak jadi naik belum mempengaruhi harga-harga bahan bangunan harga besi unp harga besi cnp harga besi siku harga besi pipa harga besi hollow harga plat bordes yang sudah terlanjur naik.
Secara keseluruhan, hampir sebagian besar bahan bangunan seperti semen, besi dan pasir yang sudah alami kenaikan harga tidak akan turun kembali. “Kenaikan harga terjadi karena masalah transportasi dan bahan baku yang mulai naik,” ujarnya.
Saat ini, ia menjual semen merek Tiga Roda yang 50 kilogram seharga Rp 60.000, sedangkan merek Holcim Rp 59.000. “Harga semen rata-rata naik Rp 1000 hingga Rp 2000 setiap minggunya. Namun demikian, permintaan semen masih normal. Seminggu saya bisa menjual sebanyak 800 zak,” kata Solihin.
Harga baja terus mengalami kenaikan, bahkan pada semester I 2010 ini rata-rata kenaikannya hingga 100 persen. Diperkirakan, harga baru tersebut lebih permanen karena didorong oleh kenaikan bahan baku.
"Kondisi ini perlu diketahui para konsumen karena yang saat ini terjadi berbeda dengan 2008. Pada dua tahun lalu, kenaikan lebih didorong oleh demand pull sehingga industri baja memberi diskon hingga 80 persen. Sementara pada 2010 ini, lebih didorong oleh dorongan biaya," ujar Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel Irvan Kamal Hakim.
"Tahun 2008 lalu, industri baja memberi diskon sampai 85 persen karena industri tiarap. Sekarang, mereka pikir sudah saatnya menaikkan kembali harga baja harga besi baja harga besi beton harga besi hollow harga besi cnp . Selain itu, memang ongkos produksi bahan baku juga naik," ujarnya.
Menurut Irvan, kenaikan tersebut terjadi pada harga seluruh bahan baku baja internasional. Harga bijih besi pada triwulan II-2010 sebesar 196,77 sen dolar AS per dry metric tonne unit (dmtu), naik 103 persen jika dibandingkan tahun 2009 lalu sebesar 96,99 sen dolar AS per dmtu. Sementara perkiraan pada triwulan III-2010 sebesar 200 sen dolar per dmtu.
Irvan menjelaskan, salah satu faktor pendorong naiknya ongkos produksi karena kebutuhan bahan baku dengan kandungan Fe yang bagus. "Kalau selama ini bisa ditambang dekat dengan pelabuhan, sekarang harus lebih jauh ke dalam sehingga ada tambahan ongkos logistik," tutur Irvan menjelaskan.
Selain itu, biaya pengiriman memakai alat transportasi berbahan bakar minyak juga terpengaruh oleh kenaikan harga minyak mentah dunia. Perubahan kontrak iron ore (bijih besi) dari tahunan menjadi kuartalan, juga dinilai menjadi pemicu naiknya harga bahan baku baja internasional. Belum lagi, perekonomian Cina yang terus membaik sehingga meningkatkan aktivitas konstruksi dan industri.
Irvan menyebutkan, harga hot rolled (pelat hitam) harga besi unp harga besi wiremesh harga besi wf harga besi h beam harga besi plat Hitam Baja harga besi pipa baja yang pada 2009 berada di harga Rp 7.600,00 per kg, pada Januari menjadi Rp 7.500,00 Februari naik lagi menjadi Rp 7.600,00 Maret ke Rp 8.000,00 April Rp 8.700,00 Mei Rp 8.900,00. Juni Rp 9.100,00 dan kuartal ketiga menjadi Rp 9.200,00 per kg.
Hal yang sama juga terjadi pada harga cold rolled (pelat putih) harga besi siku harga besi plat kapal harga bondek harga baja ringan harga spandek harga stainless steel pada kuartal ketiga mencapai Rp 9.650,00 per kg, wire rod (batang kawat) menjadi Rp 8.200,00 per kg, paku Rp 9.100,00 per kg, besi beton Rp 9.000,00 wire mesh (jaring kawat) Rp 9.050,00 dan seng Rp 36.500,00 per lembar.
Hari Ini Kami Launching Situs Ini Untuk Keperluan Seluruh Dokumen Lelang Dan Tender Semoga Semua Bisa Merasakan Manfaatnya Dan Bisa Digunakan inforamsi ini Dengan Sebaik-baiknya Silahkan Terus Dikunjungi Website Kami
Hallo Disini Kita Mulai Dan Semoga Bermanfaat Website ini Saya buat untuk Kepentingan Bersama Nanti Dilanjut Lagi ya Thanks